Kader yang Diputusin

Resonansi by Cik Ben

Kata para pecinta, yang paling sakit itu, “Saat kita lagi sayang-sayangnya,  diputusin tanpa sebab”. Hal itu sakitnya bukan hanya disini, tapi  juga di alat reproduksi.

Hal ini sama dengan perasaan politisi kader partai. Sedang cinta-cintanya, sayang-sayangnya  pada partai yang selama ini mengkaderisasikannya menjadi politisi, eh tahu-tahu didepak. Sakitnya lagi  yang mendepak bukan kader, melainkan kutu kupret. Maaf salah, maksudnya ‘kutu loncat’.



Biasanya itu terjadi pada pecinta ekonomi standar. Dimana pukulan psikisnya,  ibarat mendapat tamparan, tapi tidak atau dapat membalasnya.  Bila itu seorang politisi, maka kejadian itu biasanya terjadi pada tingkat provinsi kebawahnya.

Pertanyaannya adalah, apakah hal seperti itu lumrah terjadi dalam politik? Bila itu  lumrah, maka tak perlu ada kader dalam partai politik. Sebab, seorang kader merupakan pengejawantahan isme daripada kelompok. Tanpa kaderisasi, maka kelompok itu dinamakan komunitas kaleng-kelang rombeng.

Pada konklusinya tampak ada derita rasa dan raja tega dalam berpolitik. Derita rasa para kader saat tersungkur kuyuh di hantam oleh  Si raja tega. Apakah itu merupakan kesalahan? Tidak. Itu bukan kesalahan dan itu hak dari raja tega dalam permainan. Yang salah adalah para kader yang keder saat raja tega masuk dalam lingkaran kelompok, sembari mengeluarkan ilernya. Kini apa daya, kader menjadi minder. Raja tega sudah terlanjur menjadi raja singa. Tak  dapat tergoyahkan. Berani usik, resikonya suntik.

  • Wartawan timggal di Bengkulu
Share.

25 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: