Pembatalan SK Pengurus Masjid Berbuntut Panjang, Lurah Minta Maaf

RDNews. Informasi pembatalan SK pengurus Masjid Al-Firdaus RT 35 RW 07 Kelurahan Pagar Dewa, Kecamatan Selebar Kota Bengkulu karena salah satu pengurus terpilih merupakan warga Muhammadiyah dan membuat heboh publik, akhirnya ditanggapi oleh Lurah Pagar Dewa, Juanda.

Ia mengaku jika hal tersebut terjadi karena ada miskomunikasi sehingga menyebabkan kehebohan di masyarakat karena dianggap telah menghina warga Muhammadiyah.

“Awalnya kami memang sudah membuat SK untuk pengurus masjid Al-Firdaus termasuk imam masjid terpilih. Namun ada surat dari masyarakat yang ditandatangani sebanyak 70 orang, isinya meminta agar pemilihan pengurus masjid digelar ulang. Karena mereka merasa tidak dilibatkan dalam proses itu,” kata Juanda, Selasa (02/03).

Lanjut Juanda, atas dasar itulah dirinya belum menandatangani SK kepengurusan masjid Al-Firdaus yang baru. Dirinya juga membantah alasan dirinya enggan menandatangani SK karena imam terpilih merupakan warga Muhammadiyah.

“Tidak pernah saya menyinggung perihal organisasi apapun. Apakah dari warga yang menolak kepengurusan masjid ini memang alasannya seperti itu, kami juga tidak tahu. Yang jelas alasan kami menunda untuk menandatangani SK karena pertimbangan suara masyarakat sebanyak 70 orang yang merasa keberatan ini,” ungkapnya.

Kendati demikian, ia mengaku sangat menyesalkan dan memohon maaf atas isu berkembang dan membuat heboh publik.

“Dari lubuk hati yang paling dalam, kami meminta maaf kepada seluruh warga muhammadiyah di Seluruh Indonesia,” ucapnya.

Ia pun menegaskan jika pihaknya dalam waktu dekat akan segera menggelar musyawarah bersama tokoh masyarakat di RT 35 RW 07 untuk mencari solusi terkait kepengurusan masjid Al-Firdaus.

“Dalam dua atau tiga hari ini kami akan bermusyawarah mencari solusi terbaik. Nanti akan kita undang tokoh agama, tokoh masyarakat termasuk unsur TNI/Polri yakni Babinsa dan Babinkamtibmas,” tutupnya.

Sebelumnya diberitakan jika Ketua RT 35 RW 07, Yanto Nasrun menyebut jika sang lurah menolak untuk menandatangi SK kepengurusan imam masjid karena diduga mendapat intervensi dari orang-orang yang tidak menyukai sosok H. Syahrin sebagai imam masjid yang baru.

“Pak lurah menolak untuk menandatangani SK dengan alasan adanya surat dari warga yang menyebut bahwa pemillihan imam tanpa melalui musyawarah dan atas kehendak saya sebagai Ketua RT. Padahal faktanya, warga yang mengajukan keberatan tersebut hadir pada saat musyawarah yang kita laksanakan di masjid. Mereka juga setuju ketika opsi H. Syahrin ini kita tunjuk sebagai imam masjid yang baru,” kata Yanto.

Berdasarkan informasi dihimpun dilapangan, warga yang menolak disebutkan identitasnya menyebut jika masyarakat dan oknum lurah tersebut menolak H. Syahrin menjadi imam masjid lantaran ia termasuk warga Muhammadiyah.

“Kami tidak setuju kalau beliau menjadi imam masjid karena dia orang Muhammadiyah,” jawabnya singkat. [red]

Share.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: