Sejarah Gerakan Literasi

Oleh : Heni Fartika Fartianti, SE

Literasi dalam arti yang jadul adalah orang yang melek baca tulis, akan tetapi akhir-akhir ini literasi mulai mengalami perkembangan arti yang lebih luas. Tidak hanya sekedar bisa baca tulis akan tetapi paham dengan apa yang ia baca dan menyukai kebudayaan. Menonton film, suka menikmati pertunjukan budaya, arti literasi yang paling umum adalah menkonsumsi kebudayaan dan memproduksi kebudayaan.

Dalam sejarahnya literasi mulai di kenal di Eropa pada abad ke 17-18. Mulai berkembangnya orang dalam tulis menulis dan foresfonden yang merambah lapisan dunia dari Eropa, Rusia sampai Asia Timur. Gerakan literasi yang berkembang pada masa itu telah di temukannya mesin cetak buku oleh Johann Gutenberg seorang pembuat minuman anggur. Mengubah mesin pres anggur menjadi mesin cetak buku, sehingga buku dapat di produksi dengan lebih cepat dan masal. Penggandaan buku lebih banyak di bandingkan dengan penulisan secara manual.

Aktifitas surat menyurat pada masa itu yang intensitasnya cukup tinggi juga mendorong laju perkembangan literasi pada masa itu, isi surat-surat tersebut membahas perihal perkembangan kebudayaan, dunia pemikiran dan penemuan ilmiah terbaru juga menjadi pokok bahasan pada surat menyurat tersebut. Dengan penerbitan buku yang masif dan harga yang relatif murah menjadi mempermudah laju perkembangan literasi. Buku yang baru terbit di bulan ini dapat di diskusikan lewat surat menyurat di bulan berikut nya.

Gelombang kolonisasi awal, orang-orang Eropa yang mulai masuk ke benua Amerika, Asia yang disana terdapat komoditas-komoditas unik diantaranya kopi, pembangunan literasi yang semula dari surat menyurat dan buku mulai beralih ke rumah-rumah coffee tempat berdiskusi tentang kebudayaan, perkembangan sains dan ilmu pengetahuan yang ditemukan. Pada masa itu lembaga-lembaga pendidikam belum terbangun secara sistematis, sehingga masyarakat memanfatkan rumah-rumah coffee menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi misalnya tentang filsafat alam dari berbagai penemuan spesies ikan, serangga dan hewan lainnya yang baru saja di temukan di Amerika latin sekaligus membantah teori lama tentang biologi, disana mereka bisa saling adu ide-ide liar, berdebat yang akan melahirkan teori baru.

Ada tiga hal yang melandasi perkembangan literasi pada abad ke-17 yakni yang pertama munculnya mesin cetak, yang kedua jaringan foresfondensi atau surat menyurat, dan yang ketiga adalah munculnya Coffee Shop .

Pada abad ini juga muncul jenis-jenis publikasi yang lebih ringkas yang sifatnya seperti pamflet, jurnal. Di mungkinkan karena konjungsi tiga hal tersebut yang rumusan nya lebih mengena sasaran langsung, yg muncul pada masa itu adalah sebuah buletin yang berjudul Nouvelles Dela Republique Des Lettres yg di terbitkan oleh Piier Beel orang Perancis yang di terbitkan di Amsterdam Belanda yang memuat gagasan ide-ide pada waktu itu.

Bermunculannya institusi-institusi diantara asosiasi para intelektual pada masa itu yang di kenal dengan masyarakat keilmuan di Inggris muncul Royal sosaity foor infruping natural nolict , di Perancis ada akademi sains kerajaan, ini merupakan asosiasi tempat berkumpulnya para peneliti, ilmuwan, orang-orang yang menaruh minat kebudayaan pada masa itu. Satu hal yang penting pada konsep literasi pada masa itu, ini bukan sekedar aktifitas tulis menulis, mambacamembaca seperti itu akan tetapi lebih jauh lagi tentang mengasah budi pekerti yang di kenal dengan konsep Cultural Refinement (penghalusan budi pekerti) dengan cara menumbuhkan kepribadian, kepekaan terhadap dunia di sekitar, punya sikap sendiri. Dalam catatan penting sebuah literasi bukan hanya tulis menulis, baca membaca dan mengetahui banyak hal akan tetapi lebih ke pribadi yang mempunyai sikap dan kepribadian.

Kepekaan hati terhadap lingkungan yang ada tidak akan tumbuh ketika kita tidak membaca buku, tidak menonton pertunjukan seni, peka terhadap ilmu pengetahuan itu merupakan tujuan literasi, yang akan menumbuhkan sifat kritis pada diri seseorang.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun belakangan ini literasi menjadi target pembicaraan di berbagai pertemuan dan cara pandang terhadap arti literasi juga sangat beragam. Di era yang serba digital ini orang dapat dengan mudah mengakses  informasi yang di perlukan dan jangan sampai informasi yang sampai ke pembaca di terima tanpa melalui analisa terlebih dahulu. Tumbuhnya sifat kritis, empati, kepribadian yang baik itu semua yang di bangun melalui literasi.

Referensi Filosofi Gerakan Literasi “ Martin Surya Jaya “

Share.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: